Saya Berbahagia !

by Rieska Astari

Kapan Anda berbahagia?

1408336147394Entah apa yang mendorong saya saat ini mengutarakan tentang satu hal yang berhubungan erat dengan kebahagiaan. Saya baru saja membantu Om saya, Om Johnny dari Belanda sedang di Indonesia untuk beberapa minggu. Dia sedang menuju ke Bandara untuk tour ke menuju Lombok. Saya membantu lakukan pemesanan penjemputan dari Bandara Lombok menuju hotel via telepon. Done! Lalu saya lanjutkan klik ke page sebelah..daftar inbox saya. Saya melihat email-email saya..sambil memonyongkan bibir saya..sekarang jam 1 pagi! Saya baru sadar saya bersikap agak aneh..memonyongkan bibir saya..lalu klik-klik ke website New Life..ketemu dengan gambar panelnya dimana foto kami berdua terpampang dengan 3 orang jemaat New Life dalam pose tertawa bahagia.

Ya, saya berlaku aneh. Kadang semua orang berlaku aneh, tetapi tidak merugikan orang lain. Terbersit tiba-tiba dalam pikiran saya, apa yang membuatmu berbahagia? Saya menemukan jawabannya dalam perilaku aneh saya, yaitu “ketika saya menjadi diri sendiri.”

Hari ini, tepatnya kemarin, tanggal 9 September 2014, adalah tepat 2 tahun usia Ibadah Minggu Gereja yang kami rintis. Kami deklarasikan sebagai hari ulang tahun GSJA CWS New Life atau New Life Worship Ministry yang kami rintis. Tidak perlu dibahas lagi soal perintihan dalam perintisan. Mulai dari tidur beralaskan tikar kayu di lantai 2 ruko yang kami pinjam untuk perintisan gereja ini, sampai susahnya hati ini melihat anak-anak kami yang terngantuk-ngantuk dalam setiap perjalanan panjang Bekasi – Serpong, dari rumah tinggal ke gereja, yang berlangsung selama hampir 2 tahun, sebelum kami mendapatkan rumah kontrakan di kawasan ini. Perintihan dalam perintisan itu biasa. Ibarat seorang ibu yang ingin melahirkan, sakit bersalin, maka kami sedang menjalani sakit bersalin untuk melahirkan sebuah generasi, sebuah umat, sebuah jemaat bagi Tuhan.

Yang luar biasa yang saya ingin sampaikan adalah tentang perasaan bahagia. Apakah dan kapankah yang membuat saya berbahagia? Ya, saya berbahagia dalam perintisan dan penggembalaan ketika saya bisa menjadi diri sendiri. Saya bahagia melihat foto saya terpampang di website ini saat bisa tertawa seperti orang biasa di antara jemaat yang kami layani. Saya bahagia ketika saya tidak melakukan make-up atau cover apapun atas perilaku saya atau keberadaan saya. Sebelum memulai perintisan dan menanggung panggilan sebagai “bugem” atau Ibu Gembala, hal yang menakutkan saya adalah kalau-kalau saya harus “menjadi orang lain”.

Ketika gereja ini mau diresmikan oleh organisasi, 5 Mei 2013, suatu kejadian menghardik kepribadian saya yang tidak seideal seperti yang diharapkan rekan pelayanan yang mendukung kami. Ketika gereja ini menapak pada usia ke-1 tahun, seseorang mengkritik cara saya berpakaian dan tampil di mimbar. Terpikir oleh saya betapa yang saya takutkan semula telah terjadi dan akan terus berdatangan sepanjang saya menyandang panggilan Bugem. Namun keadaan tidak sesusah yang saya bayangkan. Ini hanyalah masalah bagaimana saya menyikapinya. Tuhan menempatkan orang-orang yang DIA pilih untuk mengelilingi kami, yang sampai saat ini setia berada di dalam pelayanan ini, yang selalu mendorong saya untuk menjadi diri sendiri. Saya teringat sebuah kalimat yang disampaikan seorang sahabat kepada saya ketika saya tidak tahu harus merespon apa ketika saya mengalami kritikan. Seorang sahabat ini bilang, “Kamu tidak bisa memenuhi keinginan semua orang dan mengikuti selera semua orang. Jadilah diri sendiri.” Saya tidak meragukan kredibilitas dan ketulusan orang yang mengatakan hal itu kepada saya. Perkataannya tidak menunjukkan bahwa standard dia lebih rendah dari yang seharusnya. Saya pegang pernyataan itu.

Well… kalau hari ini saya ditanya oleh siapapun, apa yang membuat anda bahagia dalam perintihan perjalanan perintisan? Yang secara spontan saya dapat katakan adalah, saya bahagia ketika saya dapat menjadi diri saya sendiri. Saya berlari bagai dalam pertandingan, berjuang keras untuk memahami penugasan dari Tuhan untuk melayani sebaik mungkin kepada jemaat yang dipercayakan, apapun resikonya, termasuk disalahpahami. Tetapi semua itu akan menjadi pahit bila dilakukan dalam kepura-puraan. Capek luar dalam. Tetapi ketika semua itu saya jalani dengan sikap murni dan tulus dari dalam diri sendiri dengan style atau gayanya saya, saya merasa berbahagia.

Gereja kami, New Life, memang unik. Setiap gereja diciptakan unik. Semua gereja yang berbeda-beda dibutuhkan oleh Tuhan, karena tidak ada satu gereja-pun yang dapat memenangkan setiap orang. Satu hal yang saya bersyukur, setiap Leaders yang ada, yang saat ini berjumlah 6 orang diluar kami berdua, mereka adalah orang yang tulus, yang memberi atmosfir tersendiri kepada saya, untuk selalu menjadi diri sendiri. Mereka dan pengerja bisa datang kapan saja ke rumah kami, 24 jam rumah kami terbuka untuk kehadiran mereka, dan rumah kami disebut base-camp dalam warta jemaat. Artinya, mereka bisa melihat dari dekat tentang kami, dan mengizinkan saya untuk menjadi diri sendiri. Kehidupan tidak semengerikan yang saya duga. Syukur kepada Tuhan, yang mengirimkan rekan-rekan yang banyak berkontribusi dalam pelayanan perintisan gereja ini, orang-orang yang rendah hati, loyal dan memberi teladan ketundukan (Submision), dan yang memberi inspirasi untuk “BE YOURSELF” kepada saya dan gerejaNya. Jangan dikira mereka tidak punya standar. Ketika ada hal yang gak cocok, tidak segan-segan juga dari mereka yang menegur dan memberi masukan dan koreksi dengan kasih!

Saya bahagia ketika saya bisa menjadi diri sendiri. Tuhan memberkati.

 

2 thoughts on “Saya Berbahagia !

  1. Alfri

    Ada ungkapan yang mencoba menggambarkan kehidupan dan pergumulan seorang hamba Tuhan.
    Jika ia berusia muda, ia dianggap kurang pengalaman
    Jika rambutnya telah putih, ia dianggap terlalu tua untuk kaun muda
    Jika ia berkhotbah dengan catatan, khotbahnya dicap kering dan kurang kuasa Roh Kudus
    Jika ia berkhotbah tanpa catatan, ia dianggap kurang persiapan
    Jika ia melayani orang-orang miskin di gereja ia dianggap sok pamer
    Jika ia menaruh perhatian pada orang-orang kaya ia dianggap berusaha menjadi orang yang pilih kasih
    Jika ia berusaha melakukan pembaharuan ia dituduh sewenang-wenang
    Jika ia memakai terlalu banyak ilustrasi dalam khotbahnya, ia dianggap mengabaikan Alkitab
    Jika ia tidak menggunakan ilustrasi dalam khotbahnya, khotbahnya dianggap tidak jelas
    Jika ia mencela kesalahan ia dianggap cepat marah
    Jika ia tidak berkhotbah menentang dosa ia dianggap melakukan kompromi
    Jika ia gagal menyenangkan setiap orang ia dianggap
    melukai gereja dan harus pergi
    Jika ia membuat semua orang bahagia ia dianggap tidak berpendirian
    Jika ia mengendarai mobil yang jelek ia dianggap mempermalukan jemaat
    Jika ia mendapat mobil yang baru ia dianggap menunjukkan kecintaannya kepada harta duniawi
    Jika istrinya aktif dituduh mau menonjolkan diri
    Jika istrinya tidak aktif dianggap tidak mendukung pelayanan suami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *