Keluarga Gereja

by Rieska Astari

Inspirasi ini datang pada saat saya duduk termenung jam 1 sampai jam 2 tengah malam di hadapan layar computer, dimana tidak sengaja di hadapan saya terpampang foto kami gembala dan para mitra gembala di situs website New Life ini. 8 orang terpampang disana. Kami berdua dan 6 rekan-rekan lainnya.

Banyak orang mengatakan, segala sesuatu dimulai dari rumah. Segala sesuatu dimulai dari keluarga. Gereja kami ini gereja kecil, sehingga bagi kami, inilah seperti sebuah keluarga bagi kami. Satu-satu saya pandangi wajah yang terpampang. Beberapa perasaan muncul dalam diri saya.

Pertama, mereka seperti bukan orang lain. Mereka real keluarga baru saya. Kesedihan mereka adalah kesedihan saya, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya. Kegagalan mereka adalah kegagalan saya.

Kedua, saya seperti ditembaki peluru-peluru dari sinar mata mereka, peluru-peluru potensi besar yang besar yang tersimpan di dalam diri mereka, untuk mereka mempunyai mimpi-mimpi dan mereka mampu mencapainya. Mimpi-mimpi gereja ini ada di tangan para anggota keluarga gereja.

Ketiga, jumlah kami akan dan pasti bertambah.

MEREKA BUKAN ORANG LAIN. Ketika berpikir tentang sebuah keluarga, ada ayat dalam firman Tuhan yang mengatakan seorang sahabat lebih karib dari seorang saudara.  Saya mengalami hal ini terjadi di antara kami, atau sebagian dari kami. Suatu berkat surgawi dapat memiliki keluarga yang benar-benar terasakan seperti keluarga kandung. Ya, memang kita semua dari satu kandungan, dilahirkan oleh kandungan darah yang sama, yaitu darah Kristus.

Ketika berpikir tentang sebuah keluarga, terpikir apa yang terjadi dalam sebuah keluarga. Ketika ada anggota rumah kita yang sakit, entah suami, istri atau anak, atau seorang pembantu, terasa keprihatinan melanda hati anggota keluarga yang lain. Ketika ada yang pergi, pulang membawa oleh-oleh, dibagikan kepada seisi rumah. Ketika ada yang lapar, ada yang menyediakan makanan. Mau mandi, setiap orang antri. Dan selalu ada tertawa dan tangis dari waktu ke waktu, bahkan nada-nada tinggi ketika ada yang marah atau kesal.

Namun juga ketika berpikir sebuah keluarga, terpikir juga apa yang tidak mungkin terjadi dalam sebuah keluarga, contohnya, ketika ada yang kesal atau marah, serta merta ia pergi mencari kartu keluarga dan mencoret namanya dari kartu keluarga. Atau ketika ada yang mencubitnya, atau menghukumnya, ia langsung menyatakan, mulai hari ini ia tidak lagi anggota keluarga itu. Hal seperti itu akan terdengar aneh. Ada yang mau bepergian, ia pergi begitu saja tanpa berita, atau ketika orang yang tua akan meninggalkan rumah, pergi begitu saja tanpa pesan dan wejangan, sehingga rumahnya berantakan dan kacau. Itu adalah hal yang langka. Demikian pula bila hal-hal seperti itu terjadi di gereja, artinya, pola pikir gereja sebagai sebuah keluarga, belum terjadi.

home

Dalam keluarga, anak-anak dibesarkan dalam kamar yang sama, makanan yang sama, teladan yang sama, jumlah uang jajan yang sama, kasih yang sama, tetapi anehnya, menghasilkan beragam kepribadian dan karakter serta kebiasaan. Mengingat ini, menjawab pertanyaan saya, mengapa dalam keluarga gereja, diberi kotbah yang sama, ajaran yang sama, ajakan yang sama, lagu-lagu yang sama, tetapi hasilnya tidak sama bagi setiap orang. Namun, yang paling kenal kita biasanya adalah keluarga kita, walau seolah-olah satu sama lain tidak terlalu sering berbicara.

Waktu saya memperhatikan satu per-satu wajah di foto yang terpampang ini, saya teringat dengan sifat mereka masing-masing yang saya kenal, sekenalnya saya terhadap mereka. Tiba-tiba setelah semua saya pandangi dengan memikirkan personalitynya, saya merasa betapa kayanya keluarga gereja ini. Terbayang bila jumlah mereka bertambah, kita semakin kaya.

Kemudian saya pandangi lagi satu per-satu, dengan pertanyaan di dalam hati, “Akankah saya melihat anak mereka yang masih balita menjadi remaja dan menumpangkan tangan untuk mendoakannya melanjutkan studinya ke universitas?”  Lalu pandangan saya pindah ke wajah seorang mahasiswi yang bersama kami sejak perintisan gereja ini, di sebelah pasangan suami istri tadi, hati saya bertanya, “Kami kah yang akan memberkati pernikahan dia nanti? Akankah dia bertemu jodohnya dan bertumbuh bersama di sini dengan kami?” Pada pandangan saya ke wajah berikutnya, seorang karyawati, “Akankah dia menetap di kota ini, mendapat jodoh dan menikah serta mempunyai anak-anak yang kami berkarti penyerahan anak-anaknya? Karena dia adalah seorang perantau, yang tidak pernah kita tahu berapa tahun akan berada bersama kami.” Kepada yang duduk di sebelah saya, hati saya bertanya, “Apakah Tuhan akan memberi saya hadiah dalam hidup saya yang singkat ini, yaitu diperkenankannya menyaksikan destiny terbaik dirinya yang Allah sedang siapkan, suatu kehidupan baru dan sebuah kemenangan dimana dia dipakai Tuhan secara luar biasa, yang membuat orang banyak tercengang-cengang, dan membungkamkan siapapun yang pernah memandangnya dengan sebelah mata?” Kepada yang satu lagi, sambil tersenyum saya hanya bisa berkata dalam hati, “Tuhan, angka 10 tahun adalah angka minimal yang saya minta dia akan bersama kami.”  Pikiran ini juga yang terjadi di rumah-rumah setiap keluarga. Ketika orang tua memandangi anak-anak mereka, pertanyaan-pertanyaan dan mimpi-mimpi bermunculan. Akan menjadi apakah anak kami kelak? Harapan yang indah selalu ada di benak orang tua yang berharap kepada Tuhan.

Pola pikir keluarga gereja yang kedua, di dalam keluarga, selalu terdapat POTENSI YANG BESAR. Akankah 10 tahun yang akan datang, kami memiliki pelayanan kreatif  tayangan rohani yang dikelola secara profesional, akankah kami memiliki tempat ibadah sendiri, akankah kami memiliki unit-unit pelayanan yang holistik, bergerak dalam berbagai area yang memberkati banyak orang? Akankah kami memiliki percetakan, ratusan siswa beasiswa, sanggar anak-anak, pelayanan bantuan hukum, pelayanan-pelayanan sosial? Mimpi-mimpi itu muncul satu per-satu ketika melihat sebuah potensi yang Allah tempatkan dalam diri setiap orang yang saya pandangi gambarnya.

Dari sebuah keluarga pengusaha, triliunan rupiah bisa dihasilkan. Dari sebuah keluarga pendeta, ribuan jiwa diselamatkan. Dari sebuah keluarga pedagang makanan, ribuan orang dapat makan, kenyang dan sehat. Demikian pula dari sebuah gereja, yang memiliki pola pikir gereja adalah keluarga, dapat dihasilkan banyak hal-hal besar yang tidak terlihat saat ini. Asalkan tiap-tiap orang mengikatkan diri sebagai anggota keluarga sampai mencapai kedewasaan yang Tuhan inginkan. Di depan akan ada waktunya, dan di depan ada proses yang dijalankan oleh setiap anggota keluarga. Anak yang gagal dalam sekolah, tidak pernah dicoret dari anggota keluarga oleh keluarga mereka. Anak yang berhasil, tidak pernah diminta segera pergi dan jangan pernah kembali. Hal ini tidak mungkin terjadi di gereja dengan pola pikir keluarga gereja, atau gereja adalah keluarga.

Ketiga, JUMLAH KITA AKAN BERTAMBAH. Pola pikir ini juga pola pikir Allah di dalam keluarga-keluarga. Dari setiap keluarga, dari kitab Kejadian, Allah sudah rancangkan dan serukan untuk beranak-cucu, memenuhi bumi. Keluarga gereja juga beranak-cucu. Berlipat ganda jumlah kita, bukanlah tanda mujizat, melainkan itu adalah tanda kedewasaan. Secara jasmani, yang beranak-cucu hanyalah mereka yang sudah dewasa. Mereka yang telah dewasa rohani, juga melahirkan anak-anak rohani. Ini bukan keterlibatan yang diminta, ini terjadi alamiah. Ada naluri umum ingin mempunyai keturunan ketika seseorang mencapai usia dewasa dan menjadi mapan. Demikian jugalah ada keinginan yang tumbuh ketika seseorang mencapai kedewasaan rohani, untuk melahirkan jiwa-jiwa baru. Ada kemandulan bagi mereka yang tidak dapat memiliki anak jasmani. Demikian juga dalam keluarga gereja, ada kemandulan rohani bagi mereka yang dalam bertahun-tahun kedewasaan rohaninya, tidak satu pun yang mereka bawa kepada Tuhan.

Gereja adalah keluarga.

Tuhan Yesus memberkati.

One thought on “Keluarga Gereja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *