KASIH (3)

1 Korintus 13:13. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

KASIH (1, 2)

  1. Kasih adalah Nilai Diri
  2. Kasih adalah Identitas orang percaya
  3. Kasih bukan dari dunia
  4. Kasih adalah jawaban persoalan

5. KASIH PASTI BERKORBAN

DI DALAM HUBUNGAN KASIH PASTI ADA PENGORBANAN

Kasih menjadi satu-satunya alasan… Telah direnungkan dan diteliti, bahwa tidak ada alasan dan kepentingan apapun yang berasal dari luar yang mendorong pengorbanan kita, itulah kasih (Matius 22:37-39).

Kasih merelakan sesuatu.. Anda dapat memberi tanpa ada yang hilang dari, tetapi anda tidak dapat berkorban tanpa ada yang hilang (Lukas 18:22-23).

KASIH menjadi dasar keputusan…. Kasih akan mengambil keputusan dengan pertimbangan utamanya “apa yang dapat saya berikan daripada apa yang dapat saya terima” (KPR 20: 35).

Keputusan yang memiliki risiko. Kasih sejati menggerakan anda proaktif berbuat baik kepada seseorang yang mengandung sebuah risiko (Roma 12:20).

BERKORBAN DIMULAI DARI SEBUAH IDE ATAU INISIATIF SI PELAKU YANG DISELESAIKAN DENGAN TINDAKAN NYATA (YESAYA 53:3-5).

KASIH PASTI BERKORBAN

Banyak orang bilang kasih pasti memberi, namun memberi belum tentu mengasihi. Namun saya lebih merasa pas untuk mengatakan bahwa kasih pasti melibatkan pengorbanan, bukan sekedar memberi.

Berkorban menggambarkan ada sesuatu yang berkurang, entah kenyamanan, kepemilikan, atau ada yang tercuil dan rasa pedih yang diakibatkan atau rasa rugi atau sesuatu menjadi batal oleh karenanya, tetapi pada kedalaman hati terdalam ada keyakinan akan suatu kebahagiaan.

Mungkin kebahagiaan itu tidak dirasakan langsung, bisa jadi hanya dalam bentuk keyakinan akan kebahagiaan, itulah pengorbanan karena kasih. Kasih yang berkorban akan memperoleh kembali segala sesuatu yang baik.

Apakah yang menyebabkan sebuah kehidupan menjadi sengsara? Seseorang menuai sengsara karena karakter pribadi yang katanya mencintai, mengasihi, tetapi enggan berkorban, termasuk kepada pasangannya sendiri.

Adalah seorang wanita yang jauh lebih mapan dari sang suami, dan ia selalu sibuk dalam pikirannya, menimbang siapa yang lebih besar menyumbang pengorbanan dalam rumah tangganya. Ia mendapati, hampir 100 persen dirinyalah yang memberi kemapanan, menyumbang secara materi, bahkan suatu titik merasa sempurna dalam pengorbanan dan merasa dirinya telah menjadi korban.

Suatu titik ia memutuskan untuk tidak lagi mau memperpanjang umur pengorbanannya agar hidupnya berbahagia. Pada hari perhentian itu, hatinya menjadi berbahagia, namun sesungguhnya saat itulah dimulainya persiapan sebuah perjalanan hari-hari malapetaka dan sengsara semakin mendekat.

Fakta bahwa umur manusia bukan semakin panjang tetapi semakin pendek dan semakin mendekat kepada hari tua dan kematian. Kebahagiaannya semakin surut dengan berjalannya waktu, berbanding terbalik dengan penyesalan yang semakin menebal menjelang menghadap Tuhan sang pencipta.

Namun tidak demikian bagi seorang istri yang saleh, yang tidak memperhitungkan berapa besar pengorbanannya, tetapi yang selalu ingin mencintai dengan menambah apa saja yang bisa dirinya korbankan bagi suaminya. Kebahagiaan dalam batin yang tidak kelihatan ditambah-tambahkan oleh Roh yang juga tidak kelihatan. Usia manusia semakin pendek mendekati Penciptanya, tetapi kebahagiaan dan pengharapannya semakin menebal. Ia memperoleh segala sesuatu yang baik, tetapi ia katakan sempurna, bukan sekedar baik.

Ia mengalami kasih sayang dan pemeliharaan suami sampai hari tuanya. Cinta kasih dari anak-anak yang mengagumi dan bangga akan dirinya. Berkat-berkat yang tidak pernah kurang, karena Allah sendiri telah menjamin berkat bagi setiap orang percaya, bukan karena seberapa besar pengorbanan seseorang, tetapi hanya burung di udara dan bunga di padang yang menjadi jaminan, diperlihatkan Allah sebagai contoh bagaimana Allah memberkati seseorang.

Siapakah pribadi yang anda katakan anda mengasihinya? Apakah anda seseorang yang masih mempertahankan kenyamanan dan segala rencana-rencana atau agenda pribadi di atas maksud Allah yang terbaik bagi dia dan orang-orang sekeliling anda?

Atau anda telah berhasil merelakan robohnya semua agenda dan pribadi, yang karenanya menimbulkan sakit seperti ada daging yang dicuil dan tidak pernah kembali lagi ke dalam tubuh anda, sesakit orang yang sedang berkorban, tetapi untuk kepentingan orang  yang anda cintai dan terlebih utama karena ketaatan kepada Tuhan yang anda kasihi? Kasih yang berkorban, pasti akan diupahi kasih yang sempurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *