Category Archives: Worship: The Heart of Heaven

Chapter 10. Membuang Kebanggaan Yang Menjadi Penghalang

Published by:

IMG_20141002_235430

by Rieska Astari

Yeremia 9:23-24
Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

Kebanggaan atas prestasi di masa lalu.

Hal-hal yang menghalangi kita bergantung kepada Allah seringkali berakar pada kebanggaan diri atas nilai yang dibangun oleh diri kita sendiri. Salah satu musuh kita adalah perasaan bangga atas prestasi masa lalu. Beberapa orang tertentu merasa dirinya lebih baik dengan menyebutkan hal-hal yang telah lampau. Prestasi pelayanan di masa lalu membayang-bayangi pikiran, bahkan membuat kepuasan bagi diri sendiri dengan pikiran tentang pengalamannya itu.

Desember 1993, saya memerankan tokoh peran utama Miss Donat  dalam pagelaran akbar anak-anak berjudul “Donat Bolong” Continue reading

Chapter 9. Tidak Gentar Lagi, Salahkah?

Published by:

090720 Kawah Putih & Danau Patengang 198

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(by Rieska Astari)

Kapankah manusia secara umum bergantung kepada Allah? Judul sebuah tulisan di Harian Kompas akhir bulan Mei 2009, “Krisis Membuat Menjadi Religius”. Umumnya manusia akan mencari Allah dan bergantung kepada Allah ketika semua usaha-usaha dan orang-orang lain sudah tidak dapat diandalkan. Allah seringkali menjadi tempat bergantung yang terakhir. Di situasi terpojok, terjepit, biasanya di titik paling ujunglah Continue reading

Chapter 8. Kepekaan Yang Mati

Published by:

090720 Kawah Putih & Danau Patengang 011(by Rieska Astari)

Izinkan saya berbagi pengalaman yang nyata. Dari beberapa orang teman pemuji, suatu kali saya mendengar keluh kesah mereka. Keluhan ini mungkin sangat klise, sering dikeluhkan oleh banyak kelompok. Dan keluhan-keluhan seperti ini menurut saya bukan sekedar penilaian subyektif, tetapi ini benar-benar suatu kondisi yang memunculkan keprihatinan mereka.

“Saya tidak bersemangat lagi memimpin penyembahan di gereja, karena saya tidak pernah melihat adanya kegairahan jemaat dalam menyanyi memuji Tuhan atau menyembah dengan sungguh-sungguh. Mereka hanya menonton dan tepuk tangan basa-basi.”

“Jemaat tidak masuk dalam ruang ibadah Continue reading

Chapter 7. Wujud Kepekaan

Published by:

worship-nightgenericsmaller

(By Rieska Astari)

Dari awal, pertengahan, hingga akhir ibadah, semuanya mengalir dengan harmoni, disertai urapan dan jamahan Tuhan, dan tidak menjadi tontonan publik belaka. Itulah yang kita harapkan. Itulah hasil kepekaan, yang merupakan hal mendasar yang diperlukan bagi setiap anggota tim. Kepekaan membuat pelayanan kita  menjadi tempat kepemimpinan Tuhan sendiri bagi jemaatNya. Beberapa wujud dari kepekaan para anggota tim penyembahan dapat dijelaskan melalui hal-hal praktis yang sering kita jumpai dalam pelayanan kita. Saya menyajikan 7 hal berikut ini Continue reading

Chapter 5. Worship Leader adalah Pemimpin

Published by:

praise6

(By Rieska Astari)

“Worship Leader” yang biasa kita artikan “Pemimpin Penyembahan” harus dipahami bahwa memang benar-benar ada 2 unsur di dalamnya yaitu Penyembahan & Kepemimpinan. Seorang worship leader, selain memiliki kehidupan penyembahan pribadi yang baik dan seni menyembah yang baik, juga tidak boleh diabaikan pentingnya keterampilannya dalam memimpin. Seorang worship leader diperlengkapi dengan bagaimana ia memimpin dan mempengaruhi jemaat Continue reading

Chapter 4. Pujian & Penyembahan… Suatu Gaya Hidup

Published by:

Ayo PHK

(by Rieska Astari)

          Kita mudah mengatakan seseorang bergaya hidup mewah atau bergaya hidup sederhana berdasarkan apa yang kita amati dari apa yang dipakainya, kemana dia berbelanja, dimana dia menghabiskan waktu senggangnya, bagaimana rumahnya, dan sebagainya. Kalau seseorang mengatakan “penyembahan sebagai gaya hidup”, beberapa orang mempunyai gambaran tentang orang yang sehari-harinya banyak menghabiskan waktunya dengan Tuhan melalui nyanyian pujian, melatih keterampilannya, banyak menyendiri untuk berdoa, bermain alat musik, entah di pekarangan rumah, di kamar, dan ia seorang yang senang menyanyi dan mendengar sebuah kaset lagu-lagu rohani, serta melakukan pelayanan-pelayanan di gereja.

            Dalam beberapa kurun waktu tertentu dalam beberapa kali perenungan, Tuhan mengarahkan pengertian saya tentang gaya hidup seorang penyembah yang jauh lebih berbobot dari gambaran tersebut. Bagaimana kita dapat mengatakan seseorang atau diri kita sendiri memiliki gaya hidup sebagai seorang penyembah? Continue reading

Chapter 3. Pujian & Penyembahan…Suatu Ekspresi

Published by:

Ekspresi

(by Rieska Astari)

Penyembahan sebagai ekspresi, terlukis dalam renungan saya bagaikan seorang yang sedang jatuh cinta.Pujian dan penyembahan kepada Allah mengungkapkan penghargaan dari dalam hati, tidak dibuat-buat, tidak mengeluh soal jarak dan waktu, tidak dipelajari secara struktural dan tidak dilakukan dengan mekanisme tertentu. Penyembahan kita tidak dituntun oleh sebuah Manual Book. Mirip dengan orang yang jatuh cinta. Continue reading

Chapter 2. Sing What You Believe, Believe What You Sing

Published by:

Mujizat masih ada

(by Rieska Astari)

Menyanyi adalah satu hal, tetapi menyanyi dari dasar hati dengan iman dan percaya adalah hal lain lagi. Bagi seorang penyembah, itu bukan pilihan tetapi itulah syarat bagaimana ia harus menyanyi agar nyanyian itu bukan sekedar nyanyian, dan hasilnya selalu terbukti. Umumnya orang Kristen suka menyanyi. Dimanapun mereka menyanyi. Allah senang, dan Dia bertahta atas nyanyian pujian. Banyak orang Kristen beriman atau percaya. Dalam banyak hal mereka mengandalkan iman mereka untuk sesuatu hal yang belum mereka lihat. Allah senang, dan Dia bekerja. Menyanyi dan percaya, percaya dan menyanyi. Pernahkan kita terpikir menjahit keduanya menjadi satu ? Continue reading

Chapter 1. Bila Kita Mengenal Siapa Yang Kita Sembah

Published by:

He cares for me

(by Rieska Astari)

Masing-masing kita memiliki panggilan yang berbeda-beda. Panggilan yang sama bagi kita semua adalah menyembah penciptanya, menjadi seorang penyembah. Panggilan untuk menjadi penyembah Raja segala Raja dipenuhi dengan menyembah Dia dengan cara-cara penyembahan baik yang tidak kelihatan maupun dengan cara yang kelihatan. Dunia ini memiliki banyak penyembah dan masih menjadi doa kita agar setiap hari dilahirkan penyembah-penyembah Allah. Banyak orang yang mau belajar bagaimana menjadi seorang penyembah yang baik, bahkan seringkali tanpa disadari seseorang dapat terperosok dalam perlombaan Continue reading